Persahabatan yang Kita Jalin, dan Pribadi yang Kita Bentuk
Tentang persahabatan, pengaruh tersembunyi dari pertemanan, dan tanggung jawab menjadi seseorang yang mendekatkan orang lain kepada Allah.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
In the name of Allah, the Most Merciful, the Most Compassionate.
Rabbi ishrah li sadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisani, yafqahu qawli.
(Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.)
Saya hanya memiliki beberapa sahabat. Tetapi apa yang kurang dari segi jumlah, mereka tebus dengan dorongan, dukungan, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Butuh beberapa tahun bagi saya untuk menyadari bahwa seorang sahabat yang hadir ketika hal itu paling dibutuhkan, atau seorang yang tidak membuat kita merasa malu untuk meminta bantuan, jauh lebih berharga daripada khalayak yang hanya terlibat dalam percakapan yang tak bermakna.
Ada satu hadis Nabi Muhammad ﷺ yang sering kita jumpai ketika membahas pentingnya memilih sahabat dengan bijak.
حَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، وَأَبُو دَاوُدَ قَالاَ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ وَرْدَانَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ " . Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Nabi (ﷺ) bersabda: Seseorang mengikuti agama sahabatnya; maka hendaklah masing-masing memperhatikan siapa yang ia jadikan sahabat. Sunan Abi Dawud 4833 |
Ini adalah pengamatan yang luar biasa sederhana dan hampir tidak membutuhkan penjelasan, karena kebanyakan dari kita telah hidup cukup lama untuk mengenali kebenarannya.
Pasangan suami istri dan sahabat karib barangkali dapat membenarkan hal ini: semakin akrab seseorang bagi kita, semakin terbiasa kita dengan cara bicaranya. Kita mengambil kebiasaannya, menyerap sikapnya, dan terkadang mendapati diri kita membentuk pendapat yang mungkin tidak akan pernah kita capai sendiri. Persahabatan kita memengaruhi apa yang kita anggap dapat diterima, apa yang kita anggap lucu, apa yang kita toleransi, dan bahkan apa yang kita cita-citakan untuk menjadi.
Maka, ketika kita menjumpai hadis ini, naluri kita sering kali mengarahkan kita untuk memeriksa orang-orang yang telah kita biarkan masuk ke dalam kehidupan kita. Apakah mereka membawa pengaruh baik? Apakah mereka mendorong kita untuk mengingat Allah? Apakah mereka orang-orang yang berakhlak baik? Apakah mereka menjadikan kita Muslim yang lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting, tidak diragukan lagi. Tetapi ada pertanyaan lain yang pantas mendapat perhatian yang sama besar, dan barangkali kejujuran yang jauh lebih besar.
Sahabat macam apakah kita bagi orang-orang yang telah membiarkan kita masuk ke dalam kehidupan mereka?
Kita sering terlalu sibuk mengenali sifat-sifat yang semestinya kita cari pada orang lain sehingga kita lupa akan tanggung jawab kita sendiri untuk mewujudkannya. Jika pertemanan memiliki kekuatan untuk memengaruhi agama, akhlak, dan hubungan seseorang dengan Allah, maka tentu kita pun harus menyadari bahwa kita juga memengaruhi seseorang.
Bobot Kehadiran Kita
Allah berfirman kepada kita dalam Surah Al-Furqan (25:27):
وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَـٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا ٢٧ Dan ˹waspadalah terhadap˺ Hari ketika orang zalim akan menggigit jari-jarinya ˹dalam penyesalan˺ dan berkata, "Oh! Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengikuti Jalan bersama Rasul! يَـٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ٢٨ Celakalah aku! Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu tidak pernah menjadikan si fulan sebagai sahabat karib. |
Ayat-ayat ini menggambarkan bentuk penyesalan yang menghancurkan. Seseorang menoleh kembali pada pertemanannya di dunia dan menyadari bahwa seseorang yang pernah ia dekati turut menyebabkan ia menjauh dari petunjuk.
Dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan ayat-ayat ini dalam kaitannya dengan orang-orang yang berpaling dari jalan Rasulullah (ﷺ) dan mengikuti sahabat-sahabat yang menyesatkan mereka. Meskipun ayat ini memiliki konteks tertentu, peringatannya meluas hingga mencakup bahaya pengaruh pertemanan yang mendorong kedurhakaan dan kekafiran.
Mudah bagi kita membaca ayat-ayat ini dan langsung teringat pada seseorang yang telah memberi pengaruh buruk bagi kita. Tetapi bayangkan sejenak, kemungkinan bahwa kitalah orang yang disesali oleh jiwa lain karena pernah berteman dengannya.
Pernah menjadi teman yang kepertemanannya mungkin disesali orang lain, atau sekadar memiliki penilaian yang buruk dan pengaruh yang terlalu besar, tidak serta-merta membuat kita kejam atau jahat dengan sengaja. Terkadang, dalam kebodohan masa muda, kita hanya membuat kesalahan terlihat biasa. Mungkin ucapan kita yang ceroboh yang mendorong orang lain untuk ikut bergunjing, atau barangkali ada suatu masa ketika kita secara rutin mengabaikan kewajiban-kewajiban agama dan tanpa sadar mempengaruhi seseorang yang dahulu menganggapnya serius untuk melakukan hal yang sama.
Pengaruh kita terhadap orang lain tidak selalu merupakan hasil dari persuasi yang disengaja. Lebih sering, kebiasaan dan sikap yang tertanam paling dalam adalah yang terbentuk oleh pengulangan dan keakraban.
Bayangkan saat pertama kali Anda mendengar lelucon rasis, atau tak sengaja menemukan video prank di mana seseorang benar-benar terluka. Anda pasti merasa tidak nyaman, kalau bukan sedikit ngeri. Namun apa yang terjadi ketika kita berulang kali menghadapi hal-hal semacam ini? Ketika kekejaman yang sama dikemas ulang sebagai humor, dibagikan di antara teman-teman, dan akhirnya disambut dengan tawa bukan rasa tidak nyaman?
Kita menjadi tidak peka lagi. Begitulah tepatnya batas-batas moral kita bisa mulai bergeser, tanpa kita sadari. Apa yang dulu memerlukan keputusan sadar lambat laun menjadi kebiasaan alami. Dan terkadang, orang-orang yang mempengaruhi perubahan ini bukanlah mereka yang secara aktif mendorong kita untuk berbuat salah, melainkan sekadar mereka yang perilakunya sudah kita biasa terima.
Dan inilah justru sebabnya mengapa menjadi teman yang baik dalam Islam harus melibatkan lebih dari sekadar kasih sayang, kesetiaan, atau kesamaan minat.
Hal itu menuntut kesadaran bahwa keberadaan kita dapat menyuburkan atau justru melemahkan hubungan orang lain dengan Allah.
Teman yang Membuat Kebaikan Lebih Mudah
Nabi (ﷺ) menggambarkan pengaruh persahabatan melalui sebuah perumpamaan yang indah:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً ". Diriwayatkan dari Abu Musa: Nabi (ﷺ) bersabda, 'Perumpamaan seorang sahabat yang saleh dan baik, dan yang jahat, adalah seperti seseorang yang membawa minyak kesturi dan seseorang lainnya yang mengembuskan sepasang alat tiup pandai besi. Orang yang membawa minyak kesturi itu akan memberimu minyak wangi sebagai hadiah, atau kamu akan membeli sedikit darinya, atau kamu akan mendapatkan bau yang harum darinya, tetapi orang yang mengembuskan alat tiup pandai besi itu akan membakar pakaianmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya." Sahih al-Bukhari 5534 |
Yang membuat perbandingan ini begitu menarik adalah bahwa penjual minyak kesturi tidak harus memberimu apa pun. Sekadar berada dalam kebersamaannya saja sudah dapat meninggalkan sesuatu yang menyenangkan padamu. Begitu pula, seorang teman Muslim yang baik tidak perlu terus-menerus memberikan nasihat keagamaan atau memulai percakapan mendalam tentang iman. Kebaikannya dialami melalui interaksi-interaksi yang sederhana.
Mereka berbicara dengan baik tentang orang-orang yang tidak hadir, mereka menepati janji-janji mereka, mereka meminta maaf ketika mereka bersalah, mereka mengingat untuk mendirikan salat tanpa memperlakukan kewajiban itu sebagai sebuah beban, dan mereka menunjukkan rasa syukur atas hal-hal kecil. Dan perlahan-lahan, hampir tanpa disadari, orang-orang di sekitar mereka mulai mengenali perilaku-perilaku ini sebagai ungkapan alami dari sebuah kehidupan yang dijalani dengan iman.
Saya berharap setiap orang merasakan kenyamanan mendalam dari sebuah persahabatan di mana kebaikan tidak memerlukan usaha yang luar biasa. Di mana mengingat Allah adalah hal yang biasa, kesederhanaan dihargai bukan diejek, dan memilih untuk tidak ikut serta dalam kesalahan tidak memerlukan penjelasan yang panjang.
Hadiah terbaik bagi orang-orang yang kita cintai adalah lingkungan yang membuat ketaatan kepada Allah terasa alami.
Keberanian untuk Menegur Tanpa Mempermalukan
Persahabatan yang tulus bukanlah persahabatan di mana setiap keputusan selalu dibenarkan. Akan ada saat-saat ketika seseorang yang kita cintai berbuat zalim, berbicara tanpa pertimbangan, atau membuat pilihan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ia akui diyakininya. Dan mungkin pula ada saat-saat ketika berdiam diri terasa jauh lebih mudah daripada menegaskan persoalan itu.
Namun Allah berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ١٠ Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara saudara-saudaramu. Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu diberi rahmat. |
Nilai suatu persahabatan tidak bisa sekadar diukur dari kedekatan emosional, setidaknya tidak dalam Islam. Bagi umat Muslim, persaudaraan membawa serangkaian tanggung jawab, termasuk kewajiban untuk memperhatikan kesejahteraan moral dan spiritual orang lain.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ قُلْتُ لِسُهَيْلٍ إِنَّ عَمْرًا حَدَّثَنَا عَنِ الْقَعْقَاعِ، عَنْ أَبِيكَ، قَالَ وَرَجَوْتُ أَنْ يُسْقِطَ، عَنِّي رَجُلاً قَالَ فَقَالَ سَمِعْتُهُ مِنَ الَّذِي سَمِعَهُ مِنْهُ أَبِي كَانَ صَدِيقًا لَهُ بِالشَّامِ ثُمَّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " الدِّينُ النَّصِيحَةُ " قُلْنَا لِمَنْ قَالَ " لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ " . Diriwayatkan atas otoritas Tamim ad-Dari bahwa Nabi (ﷺ) bersabda: "Agama adalah nasihat." Kami bertanya, "Kepada siapa?" Beliau bersabda, "Kepada Allah, kepada Kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada para pemimpin umat Muslim serta rakyat mereka." Sahih Muslim 55a |
Kata Arab nasihah mencakup nasihat yang tulus dan kebaikan hati. Ia bukan sekadar tindakan menegur seseorang, melainkan niat untuk mencari apa yang benar-benar bermanfaat baginya.
Seorang sahabat sejati mengenali perbedaan antara nasihat yang tulus dan kepuasan membuktikan orang lain salah. Orang yang menegur dengan kasih sayang menyadari bahwa manusia rentan terhadap rasa malu, sikap defensif, dan rasa terhina. Mereka memahami bahwa tujuan nasihat bukanlah untuk menegakkan keunggulan moral, melainkan untuk membantu seseorang kembali kepada yang benar.
Ambillah contoh Musa dan Harun, semoga salam sejahtera tercurah atas mereka, yang diperintahkan untuk berbicara dengan lembut bahkan ketika berhadapan dengan Firaun:
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ ٤٤ Berbicaralah kepadanya dengan lembut, agar ia mau ingat ˹kepada-Ku˺ atau takut ˹akan hukuman-Ku˺.” |
Jika kelembutan diperintahkan bahkan dalam pertemuan dengan Firaun, betapa lebih layaknya ucapan yang penuh pertimbangan ditujukan kepada seorang sahabat yang sedang berjuang?
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi orang-orang yang nasihatnya dapat diterima tanpa rasa takut akan dipermalukan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat mengatakan, dengan kepedulian yang tulus, bahwa ada sesuatu yang salah, sambil menegaskan dengan jelas bahwa kasih sayang kita tidak pernah hilang. Dan semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima koreksi bagi diri kita sendiri.
Bagaimanapun, sebuah persahabatan tidak dapat tumbuh di atas harapan bahwa hanya satu pihak yang harus bertanggung jawab.
Sahabat yang Menjaga Apa yang Dipercayakan Kepadanya
Saya telah mengalami banyak sekali situasi di mana kepercayaan dan harapan saya akan kerahasiaan dilanggar. Saya sendiri pun memiliki pengalaman yang disesali, di mana saya telah melanggar kepercayaan dan kerahasiaan orang lain. Semoga Allah mengampuni saya, dan orang-orang lain seperti saya.
Ada semacam keintiman tertentu yang ada di antara sahabat-sahabat dekat. Semakin dekat suatu hubungan, semakin banyak kesempatan kita untuk menyaksikan orang lain dalam keadaan paling rentan, paling bahagia, paling takut, paling menyesal, paling terdorong, dan sebagainya. Pengungkapan-pengungkapan ini bukanlah undangan untuk menghibur orang lain, melainkan amanah.
An-Nisa (4: 58) ۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا ٥٨ Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk mengembalikan amanah kepada pemiliknya;[1] dan apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia, putuskanlah dengan adil. Alangkah mulianya perintah Allah kepadamu! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. |
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir membahas kewajiban yang luas untuk menunaikan amanah dan memberikan kepada orang-orang hak mereka. Prinsip ini meliputi tanggung jawab yang ditunaikan kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Kepercayaan seorang sahabat adalah salah satu tanggung jawab semacam itu, dan kita semestinya berhati-hati dengan cara kita membicarakan orang ketika mereka tidak ada.
Allah memperingatkan tentang ghibah dalam Surah Al-Hujurat:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ١٢ Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak purbasangka, ˹karena˺ sesungguhnya sebagian purbasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu saling memata-matai, ataupun saling mengumpat. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kamu akan merasa jijik terhadapnya! Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang. |
Pembicaraan paling berbahaya yang pernah saya alami biasanya dimulai dengan kepedulian. Dengan kedok kekhawatiran, kita membagikan rincian yang sebenarnya tidak diperlukan dalam situasi tersebut, dan membahas kekurangan orang lain dengan pendengar yang tidak memiliki kemampuan, atau pun niat, untuk membantu. Dan yang paling buruk, ketika pengamatan kita secara faktual benar, kita meyakinkan diri sendiri bahwa perkataan kita dapat dibenarkan.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan tentang orang lain sesuatu yang tidak disukainya, bahkan ketika apa yang dikatakan itu benar. Jika itu tidak benar, maka itu menjadi fitnah.
Seorang sahabat yang baik tidak menuntut kesempurnaan orang lain untuk melindungi martabatnya. Ia menyadari bahwa kelemahan yang dipercayakan kepadanya bukanlah miliknya untuk disebarkan, dan ketika nasihat atau campur tangan yang tulus memang diperlukan, ia mencarinya melalui jalur yang semestinya, membagikan hanya apa yang perlu.
Sahabat yang Tidak Berlomba dengan Nikmat Orang Lain
Persahabatan terkadang dapat menyingkapkan kebenaran yang tidak nyaman tentang hati manusia. Kita mungkin benar-benar menyayangi seseorang dan tetap merasakan dengki ketika mereka menerima sesuatu yang telah lama kita dambakan.
Barangkali mereka menikah sementara kita masih sendiri, atau karier mereka maju sedangkan karier kita tampak terhenti. Mereka bahkan mungkin mencapai sebuah pencapaian pribadi yang mengingatkan kita pada ambisi kita sendiri yang belum terwujud. Penting untuk menyadari bahwa perasaan semacam ini dapat timbul bahkan dalam hubungan yang dilandasi kasih sayang yang tulus. Namun yang paling penting adalah apa yang kita pilih untuk kita tumbuhkan darinya.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ، قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ". Diriwayatkan dari Anas: Nabi (ﷺ) bersabda, "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya (sesama Muslim) apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." Sahih al-Bukhari 13 |
Imam al-Nawawi, dalam syarahnya atas Sahih Muslim, menjelaskan bahwa ini meliputi mengharapkan bagi saudaranya kebaikan yang diinginkannya bagi diri sendiri, tanpa menginginkan nikmat orang lain itu lenyap.
Ini adalah standar kasih sayang yang menuntut. Ia meminta kita untuk merayakan kebaikan bahkan ketika kita sendiri masih menunggu bagian kita darinya. Untuk menyadari bahwa rezeki orang lain tidak mengurangi rezeki kita, dan untuk mengucapkan selamat tanpa dendam, memberi dukungan tanpa perbandingan, serta menawarkan dorongan semangat tanpa secara tersembunyi berharap tetap berada di depan.
Allah mengingatkan kita dalam Surah An-Nisa (4:54):
أَمْ يَحْسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۖ فَقَدْ ءَاتَيْنَآ ءَالَ إِبْرَٰهِيمَ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَـٰهُم مُّلْكًا عَظِيمًا ٥٤ Ataukah mereka dengki kepada manusia atas karunia yang Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. |
Pembagian nikmat adalah hak Allah. Seorang sahabat yang tulus memahami bahwa keberhasilan orang lain bukanlah bukti bahwa dirinya terabaikan. Kebahagiaan orang lain tidak perlu mengancam kebahagiaan kita. Persahabatan menjadi sangat indah ketika kita dapat menyaksikan seseorang menerima nikmat yang begitu kita dambakan, dan tetap mampu mengucapkan Alhamdulillah untuk mereka.
Sahabat yang Memberi Ruang bagi Kekurangan Manusia
Ada bahaya dalam membicarakan persahabatan yang saleh tanpa mengakui kekhilafan manusia. Kita mungkin mulai membayangkan bahwa seorang sahabat Muslim yang baik adalah orang yang tidak pernah bergumul, tidak pernah mengecewakan, tidak pernah hilang kesabaran, dan tidak pernah terjerumus dalam kesalahan.
Namun bukan demikian sifat manusia.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ : " كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ " . Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Setiap anak Adam berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertobat.’” Sunan Ibn Majah 4251 |
Seorang sahabat yang saleh bukanlah mereka yang belum pernah melakukan kesalahan besar. Mereka justru bisa jadi orang yang menyadari kesalahannya, bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkannya, dan terus-menerus berusaha untuk menjadi lebih baik.
Sebagaimana kita ingin menerima empati dan pemahaman semacam itu, kita pun hendaknya memberikan hal yang sama kepada orang lain.
Allah menyebutkan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain di antara sifat-sifat orang yang bertakwa dalam Surah Ali 'Imran, ayat 134.
Namun, memberi maaf bukan berarti mengabaikan kejelian. Ada hubungan-hubungan yang mengharuskan adanya batasan. Pengkhianatan, manipulasi, atau kerugian yang berulang tidak seharusnya dimaafkan hanya karena kita dianjurkan untuk berbelas kasih. Menjadi sahabat yang baik juga tidak mengharuskan kita untuk tetap senantiasa tersedia bagi orang-orang yang mengabaikan kesejahteraan kita.
Kita dapat mendoakan kebaikan bagi seseorang sembari menyadari bahwa kedekatan tidak lagi layak dipertahankan. Perbedaan penting terletak antara melindungi diri sendiri dan membiarkan kepahitan menguasai diri kita.
Kita hendaknya berusaha menjadi sahabat yang meminta maaf dengan tulus, memaafkan dengan penuh pertimbangan, dan memahami bahwa setiap orang sedang menjalani perjuangan yang mungkin tidak kita pahami seutuhnya.
Sahabat yang Mengingatmu di Hadapan Allah
Betapa seringnya kita berjanji untuk mendoakan orang lain, lalu melupakannya? Saya pribadi pernah beberapa kali bergumul dengan hal ini, dan saya berusaha sebaik mungkin menebus doa itu ketika akhirnya saya mengingatnya. Pada akhirnya, ada sesuatu yang luar biasa lembut dalam mendoakan seseorang yang tidak hadir di hadapan kita.
Tidak ada yang menyaksikan tindakan itu, dan tidak ada penghargaan yang dijamin. Orang itu bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa namanya disebut. Namun perbuatan itu tetap bermakna.
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ حَفْصٍ الْوَكِيعِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ كَرِيزٍ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ " . Abu al-Darda' meriwayatkan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: Tidak ada seorang hamba Muslim pun yang mendoakan saudaranya di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) melainkan para Malaikat berkata: Semoga demikian pula untukmu. Sahih Muslim 2732a |
Renungkanlah keindahan susunan ini: dalam mendoakan kebaikan bagi orang lain, kita sendiri turut diingat dalam doa kebaikan itu. Ini adalah bentuk persahabatan yang melampaui kedekatan fisik.
Kita mungkin tidak selalu memiliki sarana untuk menyelesaikan masalah orang lain, dan kita mungkin tidak tahu kata-kata yang tepat untuk menghibur mereka. Kita bahkan mungkin terpisah oleh jarak, tanggung jawab, atau keadaan yang berada di luar kendali kita.
Namun kita dapat memohon kepada Allah agar memberikan mereka kemudahan. Kita dapat mendoakan ampunan bagi mereka, perlindungan, kesehatan, keluarga mereka, dan hal-hal yang sulit mereka ungkapkan. Kita dapat memohon kepada Allah untuk membimbing mereka ketika mereka merasa tersesat, dan menjaga keimanan mereka ketika keadaan menjadi sulit.
Sebagai Muslim, ketika seseorang mengadukan kesulitannya kepada kita, kita dapat mengingat mereka kemudian dalam kesunyian doa-doa kita sendiri.
Persahabatan yang Bertahan Melampaui Dunia Ini
ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ ٦٧ Sahabat-sahabat karib pada hari itu akan menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa, |
Dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa persahabatan yang dibangun di atas kedurhakaan kepada Allah akan menjadi sumber permusuhan, sementara persahabatan yang berakar pada ketakwaan akan bertahan. Ayat ini dari Surah Az-Zukhruf mengundang kita untuk mempertimbangkan kembali tujuan persahabatan itu sendiri.
Menilai hubungan kita berdasarkan bagaimana hubungan itu membuat kita merasa pada saat ini adalah kecenderungan yang sangat manusiawi. Kita menilai persahabatan dan sahabat-sahabat karib kita berdasarkan seberapa besar kita menikmati kebersamaan mereka, apakah mereka memahami humor kita, apakah kita dapat mempercayakan rahasia kepada mereka, dan berdasarkan minat yang kita bagi bersama. Ini adalah dimensi-dimensi yang alami dan berharga dari hubungan antarmanusia. Islam tidak mewajibkan persahabatan menjadi sebuah ikatan yang serius, tanpa tawa, spontanitas, atau kesenangan.
Bahkan, Nabi (ﷺ) sendiri menunjukkan kehangatan, kasih sayang, humor, dan kelembutan dalam hubungan-hubungannya. Sebagai Muslim, kita menyadari bahwa persahabatan dapat memiliki makna yang melampaui kenyamanan yang langsung diberikannya.
Seorang sahabat dapat mempengaruhi pilihan-pilihan yang kita buat, mengingatkan kita kepada Allah ketika kita lalai, mendorong kita bertobat ketika kita berbuat salah, dan menguatkan keteguhan kita ketika melakukan yang benar menjadi sulit. Insyaallah, kita mungkin diberikan kesempatan untuk melakukan hal yang sama bagi mereka.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ". Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Nabi (ﷺ) bersabda, "Allah akan memberikan perlindungan (naungan), kepada tujuh golongan, pada hari ketika tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya. (Tujuh golongan ini adalah) seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang dibesarkan dalam ibadah kepada Allah (yakni, beribadah kepada Allah dengan tulus sejak kecil), seorang laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid-masjid (yakni, melaksanakan shalat wajib secara berjamaah di masjid), dua orang yang saling mencintai hanya karena Allah dan mereka bertemu serta berpisah hanya karena Allah, seorang laki-laki yang menolak ajakan seorang wanita cantik dari kalangan terpandang untuk berbuat zina dan berkata: Aku takut kepada Allah, seorang laki-laki yang memberikan sedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya (yakni, tidak seorang pun tahu berapa banyak yang telah ia sedekahkan), dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu matanya pun berlinang air mata." Sahih al-Bukhari 660 |
Bukankah indah untuk membayangkan bahwa persahabatan yang terjalin begitu alami dalam dunia yang sementara ini, dapat membawa makna yang begitu mendalam di akhirat? Bukan karena kita atau sahabat-sahabat kita kaya, berpengaruh, atau dikagumi, melainkan karena cinta kita bersama kepada Allah menjadi landasan dari segala yang kita lakukan.
Menjadi Sahabat yang Kita Doakan untuk Kita Temukan
Kita tidak perlu memiliki banyak teman untuk menjalani hidup yang bahagia dan bermakna, dan sebagaimana kita membutuhkan sahabat-sahabat yang baik dalam lingkaran kita, sama pentingnya bagi kita untuk memeriksa diri sendiri sebelum memeriksa orang lain.
Jika engkau telah menghabiskan bertahun-tahun mencari sahabat yang setia, penyabar, penuh kasih, dapat dipercaya, kukuh secara spiritual, dan dengan tulus berbahagia atas kebahagiaanmu, semoga Allah mengaruniakanmu ketenangan dan keberhasilan dalam pencarianmu.
Semoga Dia mengelilingimu dengan orang-orang yang kehadirannya mendekatkanmu kepada-Nya, yang persahabatannya membawa ketenangan bagimu, dan yang cintanya mengingatkanmu pada rahmat-Nya.
Dan sebagaimana engkau berdoa untuk dikaruniai sahabat-sahabat yang baik, semoga Allah mengaruniakanmu kebijaksanaan, kerendahan hati, dan ketulusan untuk menjadi sahabat yang demikian pula.
Semoga Dia memurnikan niat kita, melunakkan hati kita, melindungi kita dari kedengkian dan kesombongan, dan menjadikan kita sumber kebaikan dalam kehidupan orang-orang yang kita cintai.
Dan ketika saatnya tiba bagi kita untuk kembali kepada-Nya, semoga kita termasuk di antara mereka yang persahabatannya menjadi sarana untuk meraih keridhaan-Nya, dan yang kebersamaannya berlanjut di surga.
Amin.
Wallahu a'lam,
Jazakallah Khair.